Pernah mengalami situasi ketika satu hal terus berputar di kepala? Percakapan yang sudah selesai dipikirkan kembali, keputusan kecil dipertanyakan berulang kali, hingga memikirkan berbagai kemungkinan terburuk padahal hal tersebut belum tentu akan benar-benar terjadi. Pola seperti ini sering disebut overthingking.
Secara sederhana, overthingking adalah kecenderungan untuk memikirkan sesuatu secara berulang dan berlebihan. Penyebab utamanya sering dilandaskan pada perasaan khawatir akibat ketidakpastian. Secara psikologi, perasaan khawatir sebenarnya adalah sinyal positif sebagai bentuk kemampuan untuk melindungi diri dari bahaya. Namun, akan menjadi masalah ketika kemampuan tersebut tidak menghasilkan pemahaman atau solusi.
Bagi kamu yang sedang merasa overthingking, yuk simak beberapa hal penting berikut agar kamu lebih paham mengapa otak kita mudah terjebak dalam overthingking.
Baca Juga: Mengapa Kita Sulit Beristirahat di Tengah Budaya Produktivitas?
Mengapa Otak Terus Memikirkan Sesuatu?
Otak manusia pada dasarnya dirancang untuk mengenali pola, memperkirakan kemungkinan, dan mengantisipasi sesuatu yang belum terjadi. Kemampuan ini berguna untuk membantu kita menghadapi situasi yang tidak pasti. Karena itu, overthinking sering muncul ketika kita tidak memiliki jawaban yang jelas. Otak mencoba mengisi kekosongan informasi dengan berbagai kemungkinan.
Misalnya, seseorang mengirim pesan singkat tanpa penjelasan. Kita mungkin mulai bertanya: apakah dia marah, apakah ada masalah, atau apakah kita mengatakan sesuatu yang salah? Semakin banyak kemungkinan yang muncul, semakin banyak pula hal yang ingin dipastikan.
Otak Manusia Tidak Menyukai Ketidakpastian
Salah satu alasan overthinking terasa sulit dihentikan adalah karena manusia cenderung menyukai kepastian. Ketika hasil sebuah situasi belum diketahui, otak dapat terus mencari informasi untuk mendapatkan rasa aman. Namun, kamu harus tahu, bahwa tidak semua hal memiliki jawaban yang bisa diketahui sekarang.
Kita tidak selalu bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, bagaimana sebuah keputusan akan berdampak beberapa bulan ke depan, atau apakah sesuatu yang kita khawatirkan benar-benar akan terjadi. Dalam kondisi tersebut, berpikir lebih lama tidak selalu menghasilkan informasi baru. Sebaliknya, overthingking justru seringkali dapat memunculkan masalah baru seperti:
- Menghambat pengambilan keputusan
- Perasaan minder
- Presepsi negatif terhadap diri sendiri
- Presepsi negatif terhadap orang lain
- Berbagai penyakit seperti stres, gangguan pencernaan (Gerd/maag), masalah saraf dan kepala, hingga gangguan kulit dan rambut, penyakit kardiovaskular, dan penurunan sistem imun
Baca Juga: Memahami Hubungan antara Stress, Rutinitas, dan Kualitas Hidup
Cara Menghadapi Overthingking dan Ketidakpastian
Dalam keilmuan psikologi, ada banyak cara yang ditawarkan untuk bisa mengatasi overthingking. Sebelum terlalu jauh, kamu bisa memulai dengan memahami dua hal penting ini yang sangat sering diabaikan:
1. Memahami Fenomena Overthingking: Berpikir untuk Mencari Solusi Vs Berpikir Berulang
Kini, kamu sudah tahu bahwa otak kita memiliki kecenderungan untuk terus berpikir. Untuk melatih mental yang kuat, kamu harus mengetahui perbedaan antara pemikiran yang membantu dan pemikiran yang berulang atau overthinking.
Berpikir untuk menyelesaikan masalah biasanya mengarah pada pertanyaan seperti:
- Apa yang sebenarnya terjadi?
- Informasi apa yang saya miliki?
- Apa pilihan yang tersedia?
- Apa langkah berikutnya?
Sementara itu, berpikir berlebihan atau overthingking sering bergerak dalam lingkaran yang sama tanpa menghasilkan keputusan baru. Perbedaannya bukan semata-mata pada jumlah waktu yang digunakan untuk berpikir, tetapi pada apakah proses tersebut membantu kita bergerak maju.
Jika kamu sudah menyadari hal ini, akan lebih mudah untuk segera mengambil kontrol atas pikiran, perilaku, dan emosi diri sehingga dapat terhindar dari overthingking.
2. Menyadari Pengalaman Masa Lalu
Selain memahami pola pikir solusi dan berulang, pengalaman sebelumnya juga dapat memengaruhi cara kita menghadapi ketidakpastian. Jika seseorang pernah mengalami hasil buruk setelah mengambil keputusan, pengalaman tersebut bisa membuatnya lebih berhati-hati pada situasi berikutnya.
Dalam kondisi tertentu, kehati-hatian memang bermanfaat. Namun, jika setiap kemungkinan selalu diperlakukan sebagai ancaman, pikiran dapat terus mencari skenario yang perlu diantisipasi. Itulah salah satu alasan overthinking bisa terasa seperti usaha untuk melindungi diri, meskipun pada akhirnya justru membuat pikiran semakin penuh.
3. Membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan hal yang belum bisa diketahui.
Ketika pikiran mulai berputar, coba tanyakan:
“Apakah saya sedang mencari solusi, atau hanya mengulang pertanyaan yang sama?”
Jika jawabannya yang kedua, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak. Menuliskan kekhawatiran, menentukan langkah kecil yang bisa dilakukan, atau memberikan batas waktu untuk memikirkan sebuah masalah juga dapat membantu membuat proses berpikir lebih terarah.
4. Menyadari dan Mengubah Bingkai Pikiran (Cognitive Reframing)
Dalam bahasa psikologinya “Cognitive Reframing”, adalah cara untuk mengubah pola pikir dari sudut pandang yang lebih realistis dan netral. Cara ini akan sangat membantu kamu yang masih terjebak pada pengalaman masa lalu. Sebagai contoh:
Dulu: “Kenapa saya bisa seperti itu dan berbuat kesalahan itu?”
Menjadi: “Saat itu saya mengambil keputusan dengan pengetahuan saya saat itu. Apa pelajaran yang bisa saya pakai agar lebih bijak hari ini?”
Siap Belajar Mengontrol Pikiran Diri Sendiri?
Pada akhirnya, overthinking tidak selalu berarti kita terlalu banyak berpikir. Sering kali, masalahnya adalah kita terus mencoba mendapatkan kepastian dari sesuatu yang memang belum memiliki jawaban.
Memahami cara kerja pikiran dapat menjadi langkah awal untuk memperlakukan diri sendiri dengan lebih realistis. Kamu bisa menyadarinya secara perlahan, dan coba mengalihkan fokus dari apa yang sudah terjadi ke apa yang bisa dikendalikan saat ini.




