Melihat teman mendapatkan pekerjaan baru, seseorang membeli rumah, atau orang lain terlihat menikmati hidupnya dapat memunculkan pertanyaan tentang kehidupan sendiri. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Perbandingan sebenarnya merupakan bagian normal dari cara manusia memahami dirinya. Kita menggunakan orang lain sebagai referensi untuk mengetahui apakah sesuatu dianggap umum, berhasil, atau sesuai dengan lingkungan kita.
Masalahnya muncul ketika perbandingan menjadi satu-satunya cara untuk menilai diri sendiri.
Perbandingan sosial adalah hal yang umum
Manusia secara alami mencari informasi dari lingkungan sosial. Kita ingin mengetahui bagaimana kemampuan, pilihan, atau kehidupan kita dibandingkan dengan orang lain. Karena itu, membandingkan diri tidak selalu memiliki dampak negatif.
Misalnya, melihat teman belajar keterampilan baru dapat memberi inspirasi. Mengetahui seseorang berhasil menabung dapat membuat kita tertarik belajar mengatur keuangan.
Dalam konteks seperti ini, perbandingan memberikan informasi yang berguna.
Masalahnya adalah informasi yang tidak lengkap
Media sosial membuat persoalan menjadi lebih kompleks. Kita biasanya melihat hasil akhir seseorang: pekerjaan baru, perjalanan, pencapaian, hubungan, atau foto kehidupan sehari-hari yang terlihat menyenangkan.
Kita tidak melihat keseluruhan proses di belakangnya.
Ketika membandingkan diri dengan potongan kehidupan orang lain, kita sebenarnya sedang membandingkan kehidupan lengkap kita dengan informasi yang sangat terbatas tentang orang tersebut. Hal ini dapat menghasilkan penilaian yang tidak seimbang.
Perbandingan ke atas dan ke bawah
Dalam psikologi sosial, perbandingan dapat terjadi ke arah yang berbeda. Kita bisa membandingkan diri dengan seseorang yang dianggap lebih berhasil atau dengan seseorang yang kondisinya dianggap lebih buruk.
Keduanya dapat memiliki fungsi berbeda.
Melihat seseorang yang lebih maju dapat menjadi sumber motivasi. Namun, jika digunakan untuk terus merendahkan diri, kebiasaan membandingkan diri dapat membuat pencapaian sendiri terasa tidak berarti.
Sebaliknya, membandingkan diri dengan orang yang dianggap kurang beruntung mungkin membuat kita merasa lebih baik untuk sementara, tetapi tidak selalu membantu membangun pemahaman yang sehat tentang diri sendiri.
Standar siapa yang sedang kita gunakan?
Pertanyaan penting ketika membandingkan diri adalah: standar tersebut sebenarnya berasal dari mana? Kita mungkin merasa terlambat menikah karena melihat teman-teman sudah menikah. Kita merasa karier tidak berkembang karena melihat orang lain mendapatkan promosi. Kita merasa tidak cukup produktif karena melihat rutinitas orang lain.
Padahal, setiap orang memiliki kondisi, tujuan, sumber daya, dan titik awal yang berbeda.
Mengubah fungsi perbandingan
Daripada berusaha sepenuhnya berhenti membandingkan diri, kita bisa mengubah cara menggunakan informasi tersebut. Ketika melihat seseorang memiliki sesuatu yang kita inginkan, kita bisa bertanya:
“Apa yang sebenarnya saya inginkan dari hal ini?”
Pertanyaan tersebut mengubah perbandingan menjadi informasi tentang kebutuhan atau tujuan pribadi.
Pada akhirnya, membandingkan diri merupakan bagian dari kehidupan sosial. Yang penting adalah memahami kapan perbandingan membantu kita belajar dan kapan justru membuat penilaian terhadap diri menjadi tidak realistis.
Kita tidak harus berhenti melihat kehidupan orang lain. Kita hanya perlu memastikan bahwa kehidupan orang lain tidak menjadi satu-satunya alat untuk mengukur kehidupan sendiri.




