Dua teman berbicara dan saling mendengarkan, memahami validasi

Bagaimana Cara Kerja Validasi dalam Hubungan Sosial?

Ketika seseorang bercerita tentang masalahnya, respons pertama kita sering berupa solusi. Kita ingin membantu, sehingga langsung mengatakan apa yang sebaiknya dilakukan. Namun, tidak semua orang sedang mencari solusi. Kadang mereka ingin merasa didengar terlebih dahulu. Di sinilah validasi memiliki peran dalam hubungan sosial.

Apa sebenarnya validasi?

Validasi adalah proses mengakui bahwa pengalaman atau perasaan seseorang dapat dipahami dalam konteks tertentu. Validasi tidak berarti mengatakan bahwa seseorang selalu benar.

Kita dapat memahami mengapa seseorang kecewa tanpa harus setuju dengan semua keputusan yang dibuatnya. Perbedaan ini penting karena validasi sering disalahartikan sebagai persetujuan.

Mengapa manusia membutuhkan pengakuan?

Manusia hidup dalam kelompok sosial. Mengetahui bahwa pengalaman kita dipahami oleh orang lain dapat membantu menciptakan rasa terhubung. Ketika seseorang mengatakan, “Wajar kalau kamu merasa kecewa setelah mengalami hal itu,” fokusnya bukan menentukan siapa yang benar, melainkan mengakui pengalaman yang sedang terjadi. Bentuk validasi seperti ini dapat membuat komunikasi menjadi lebih terbuka.

Validasi bukan berarti membenarkan semuanya

Misalnya seorang teman marah karena merasa diabaikan. Kita dapat mengatakan:

“Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa tidak dihargai.”

Kalimat tersebut berbeda dengan:

“Kamu benar, dia memang orang yang buruk.”

Kalimat pertama merupakan validasi terhadap pengalaman emosional. Kalimat kedua sudah mengandung penilaian terhadap orang lain.

Bagaimana memberikan validasi?

Ada beberapa cara sederhana:

  • Dengarkan sebelum memberi solusi.
  • Berikan kesempatan orang tersebut menyelesaikan ceritanya.
  • Cerminkan apa yang kamu dengar.

Misalnya, “Kedengarannya kamu cukup kecewa dengan kejadian itu.”

Tanyakan apa yang dibutuhkan.

“Kalau kamu cerita tentang ini, kamu ingin aku mendengarkan atau membantu mencari solusi?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menghindari kesalahpahaman.

Validasi juga berlaku pada diri sendiri

Konsep validasi tidak hanya berlaku dalam hubungan dengan orang lain. Kita juga dapat mengakui pengalaman sendiri tanpa langsung menilai bahwa perasaan tersebut berlebihan.

Misalnya:

“Saya kecewa karena hasilnya tidak sesuai harapan.”

Pengakuan tersebut tidak berarti kita harus terus berada dalam kekecewaan. Kita hanya mengakui apa yang sedang terjadi sebelum menentukan langkah berikutnya. Pada akhirnya, validasi merupakan bagian dari komunikasi yang membantu seseorang merasa didengar dan dipahami.

Hubungan yang sehat tidak membutuhkan persetujuan dalam setiap hal. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk mendengarkan pengalaman orang lain tanpa buru-buru menghakimi.