Dua teman berbicara dan saling mendengarkan, memahami validasi

Bingung Suka Jadi Teman Curhat? Kenali Apa Itu Validasi Sosial

Ketika teman curhat, haruskah kita selalu memberikan solusi? – Bayangkan temanmu tiba-tiba bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya. Kamu mendengarkan, tetapi di dalam kepala mulai muncul pertanyaan, “Aku harus jawab apa ya?”

Karena ingin membantu, kita sering kali langsung memberikan saran. Kita mencoba mencari jalan keluar, memberi tahu apa yang sebaiknya dilakukan, atau menceritakan pengalaman sendiri yang mungkin bisa membantu. Padahal, tidak semua orang yang bercerita sedang mencari solusi. Lantas, apa yang perlu kita lakukan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kamu bisa memahami apa itu validasi sosial. Yuk simak penjelasan selengkapnya.

Alasan Orang Lain Suka Curhat Kepadamu

Teman dekat belum tentu jadi tempat ternyaman untuk bercerita. Karena, kenyamanan dalam berbagi cerita lahir dari rasa aman, empati, dan tidak adanya penghakiman, bukan sekedar status kedekatan.

Oleh sebab itu, sebelum mempelajari apa itu validasi sosial, kamu perlu menyadari kelebihanmu dalam menjadi teman curhat. Karena cara kita memahami diri akan berpengaruh pada cara kita memahami situasi yang turut menentukan bagaimana kita merespons ketika seorang teman datang dan menceritakan masalahnya.

Umumnya, ada beberapa penyebab mengapa orang lain suka curhat kepadamu:

  1. Kamu dipandang sebagai orang yang bisa dipercaya dan mampu menjaga rahasia
  2. Cara bicaramu tidak judge mental
  3. Kecenderungan untuk tidak memaksa mereka bercerita
  4. Kamu memiliki rasa rendah hati untuk mendengarkan cerita mereka

Penyebab tersebut mampu menciptakan rasa aman bagi mereka yang ingin bercerita dan terbuka kepadamu. Jadi, jika kamu ingin belajar menjadi teman curhat yang lebih hadir, kamu bisa mempelajari bagaimana validasi sosial bekerja dalam sebuah percakapan dan seperti apa respons yang dapat membuat seseorang merasa didengar tanpa membuat kita harus selalu memberikan solusi.

Baca Juga: Apa yang Membentuk Rasa Aman dalam Sebuah Hubungan?

Apa Itu Validasi Sosial?

Validasi sosial adalah bentuk mengakui dan penerimaan terhadap pengalaman atau perasaan seseorang. Validasi tidak berarti mengatakan bahwa seseorang selalu benar. Kita dapat memahami mengapa seseorang kecewa tanpa harus setuju dengan semua keputusan yang dibuatnya. Perbedaan ini penting karena validasi sosial sering disalahartikan sebagai persetujuan.

Sebagai contoh, ada seorang teman yang tiba-tiba datang kepadamu dan berkata “Aku kesal banget sama atasanku. Rasanya aku ingin langsung keluar dari kantor!”

Mendengar perkataannya, apa yang akan kamu katakan?

Memberikan validasi sosial seperti “Kamu kesal sekali ya sampai kepikiran resign?” akan jauh lebih meringankan dari pada, “Iya benar, mending resign aja!”

Dengan kata lain, validasi sosial tidak berarti kita menyetujui keputusan untuk berhenti dari pekerjaan. Kita hanya mengakui bahwa rasa kesal yang sedang dialaminya memang ada dan layak untuk kita dengarkan.

Mengapa Manusia Membutuhkan Validasi Sosial?

Manusia hidup dalam kelompok sosial. Mengetahui bahwa pengalaman kita dipahami oleh orang lain dapat membantu menciptakan rasa terhubung. Ketika seseorang mengatakan, “Wajar kalau kamu merasa kecewa setelah mengalami hal itu,” fokusnya bukan menentukan siapa yang benar, melainkan mengakui pengalaman yang sedang terjadi. Bentuk validasi sosial seperti ini dapat membuat komunikasi menjadi lebih terbuka.

Validasi Bukan Berarti Membenarkan Semuanya

Misalnya seorang teman marah karena merasa diabaikan. Kita dapat mengatakan:

“Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa tidak dihargai.”

Kalimat tersebut berbeda dengan:

“Kamu benar, dia memang orang yang buruk.”

Kalimat pertama merupakan validasi terhadap pengalaman emosional. Kalimat kedua sudah mengandung penilaian terhadap orang lain.

Bagaimana Cara Memberikan Validasi Sosial?

Ada beberapa cara sederhana yang bisa kamu gunakan untuk memberikan validasi sosial:

  • Dengarkan sebelum memberi solusi
  • Berikan kesempatan orang tersebut menyelesaikan ceritanya
  • Cerminkan apa yang kamu dengar

Misalnya, “Kamu kayaknya kecewa sekali ya?” Lalu, tanyakan apa yang dibutuhkan.

“Tidak apa, sini cerita. Kamu mau aku bantu carikan solusi?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat menghindari kesalahpahaman.

Atau, dalam konteks yang berbeda, misalnya seorang teman marah karena merasa diabaikan. Kita dapat mengatakan:

“Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa tidak dihargai.”

Kalimat tersebut berbeda dengan:

“Kamu benar, dia memang orang yang buruk.”

Kalimat pertama merupakan validasi terhadap pengalaman emosional yang dapat memancingnya untuk menyelesaikan ceritanya, sedangkan kalimat kedua sudah mengandung penilaian terhadap orang lain.

Validasi Sosial Juga Berlaku pada Diri Sendiri

Terima kasih kamu sudah membaca sampai tahap ini dan ingin belajar menjadi teman curhat yang hadir. Validasi sosial tidak hanya berlaku dalam hubungan dengan orang lain. Sebagai manusia, kita juga dapat mengakui pengalaman sendiri tanpa langsung menilai bahwa perasaan tersebut berlebihan. Proses ini berkaitan dengan self-awareness, yaitu kemampuan untuk menyadari pikiran, perasaan, dan respons diri terhadap suatu keadaan.

Misalnya:

“Saya kecewa karena hasilnya tidak sesuai harapan.”

Pengakuan tersebut tidak berarti kita harus terus berada dalam kekecewaan. Kita hanya mengakui apa yang sedang terjadi sebelum menentukan langkah berikutnya. Karena pada akhirnya, validasi merupakan bagian dari komunikasi yang membantu seseorang merasa didengar dan dipahami, juga oleh dirinya sendiri.

Baca Juga: Apa yang Terjadi Saat Kita Sedang Membandingkan Diri Sendiri?

Sudah Siap Menjadi Pendengar Bagi Diri Sendiri dan Orang Lain?

Sudah paham bagaimana merespons teman curhat dan apa itu validasi sosial? Pada dasarnya, hubungan yang sehat tidak membutuhkan persetujuan dalam setiap hal. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk mendengarkan pengalaman orang lain tanpa buru-buru menghakimi.

Namun, menjadi pendengar yang baik juga tidak selalu dimulai dari kemampuan menemukan kata-kata yang tepat untuk orang lain. Semuanya bisa dimulai dari kemampuan untuk mendengarkan diri sendiri, mengenali apa yang kita rasakan, memahami bagaimana kita merespons sesuatu, dan menyadari bahwa tidak semua perasaan harus langsung diperbaiki.

Ketika kita mulai memahami diri sendiri, kita juga memiliki ruang yang lebih luas untuk memahami orang lain. Kita tidak lagi terburu-buru memberikan jawaban, menghakimi, atau mengubah cerita mereka menjadi sesuatu yang harus segera diselesaikan.