Pernah merasa bersalah saat ingin istirahat? Rasanya, tidur seperti membuang waktu. Padahal pekerjaan sudah selesai, tetapi kamu selalu mencari aktivitas lain sehingga otak dan tubuhmu selalu aktif berpikir dan bergerak. Fenomena ini dikenal dengan nama ‘budaya produktivitas’.
Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi budaya produktivitas ini? Dimana batas antara produktivitas dan terus memaksakan diri? Yuk, baca artikel ini sampai selesai.
Apa Itu Budaya Produktivitas?
Budaya produktivitas atau yang biasa disebut sebagai hustle culture adalah fenomena gaya hidup yang menganggap kesibukan sebagai ukuran dari nilai diri.
Sebenarnya, fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan individu. Perasaan untuk selalu menunjukkan yang terbaik, belomba untuk bisa menyelesaikan atau mencapai standar tertentu tanpa sadar menjadi tolak ukur dari setiap aktivitas yang kamu lakukan. Dengan kata lain, kamu terpengaruh pada cara masyarakat melihat keberhasilan yang secara otomatis dapat membentuk hubungan diri dengan pekerjaan dan juga waktu yang kamu miliki.
Sebagai contoh, berikut adalah karakteristik dari fenomena budaya produktivitas:
- Sering merasa bersalah saat tidak melakukan apa-apa
- Mengabaikan waktu istirahat dan menganggap tidur atau istirahat adalah membuang waktu.
- Kerja lembur menjadi standar dari produktivitas
Ketika Budaya Produktivitas Menjadi Rutinitas
Mungkin kamu tidak merasa sedang berada pada budaya produktivitas. Kamu hanya sedang menjalani rutinitas seperti biasanya, menyelesaikan pekerjaan, memanfaatkan waktu luang, dan mencoba melakukan hal-hal yang menurutmu penting.
Tetapi, coba perhatikan bagaimana satu hari bisa berjalan ketika hampir setiap waktu memiliki sesuatu untuk dikerjakan:
Kamu selalu mengawali hari dengan bangun pagi, mandi, sarapan, lalu bersiap menghadapi kemacetan untuk sampai ke kantor. Tidak jarang kamu juga selalu berusaha berangkat lebih pagi agar tidak terlambat. Sesampainya di kantor, kamu mengerjakan semua pekerjaan dengan baik dan selesai tepat waktu. Merasa memiliki waktu lebih, kamu memutuskan untuk mengambil pekerjaan sampingan seperti membuka bisnis pribadi atau pekerjaan freelance lainnya.
Awalnya kamu mempertimbangkan mengambil pekerjaan sampingan ini untuk menambah pendapatan. Tidak jarang juga kamu merasa bisa mengukur kemampuan dan mengatur waktu agar pekerjaan kantor bisa cepat selesai dan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengerjakan pekerjaan lainnya. Ketika jam pulang kantor tiba kamu langsung meninggalkan ruangan dan segera pulang.
Sesampainya di rumah, kamu masih melanjutkan pekerjaan sampingan. Awalnya, kamu merasa tidak masalah karena pekerjaan itu memang pilihanmu sendiri. Kamu masih bisa makan malam, beristirahat sebentar, lalu kembali membuka laptop.
Lama-kelamaan, waktu luang mulai terasa seperti kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Ketika pekerjaan selesai lebih cepat, kamu mencari hal lain untuk dikerjakan. Ketika akhir pekan datang, kamu mulai memikirkan pekerjaan yang belum selesai atau target yang ingin dicapai minggu berikutnya.
Sampai akhirnya, muncul pertanyaan sederhana: kapan terakhir kali kamu benar-benar tidak melakukan apa-apa tanpa merasa sedang membuang waktu?
Contoh di atas adalah perenungan singkat. Rutinitas tersebut sebenarnya tidak selalu buruk. Bekerja dengan teratur, memanfaatkan waktu, dan memiliki pekerjaan tambahan bisa membantu kamu mencapai tujuan, meningkatkan kemampuan, bahkan memberikan rasa puas ketika melihat hasilnya. Namun, produktivitas mulai menjadi persoalan ketika setiap waktu terasa harus menghasilkan sesuatu dan beristirahat justru dianggap sebagai waktu yang terbuang.
Menyadari hal ini penting agar kita dapat memahami kapan produktivitas membantu kita berkembang dan kapan justru mulai menguras waktu, tenaga, dan ruang untuk beristirahat.
Tips Memperbaiki Budaya Produktivitas, Istirahat Lebih dari Sekedar Tidur
Sudah menyadari bagaimana budaya produktivitas mempengaruhi hidup kamu? Selanjutnya kamu bisa mencoba untuk menyadari bagaimana cara kamu mengistirahatkan tubuh, pikiran, dan juga emosi.
Jika kamu masih menganggap bahwa istirahat adalah tidur di kasur, mungkin kamu perlu mengubah mindsetmu. Karena istirahat jauh lebih luas daripada sekedar tidur malam atau tidur siang. Istirahat berarti memperhatikan:
- Kesehatan fisik dan sensorik tubuh
- Kesehatan mental dan pikiran
- Kesehatan emosional dan sosial
Berikut adalah 3 tips yang bisa kamu lakukan untuk keluar dari budaya produktivitas yang berlebih:
- Coba lakukan micro-rest, jauhi gawai dan sosial media saat pagi hari sebelum memulai aktivitas.
- Akui jika kamu merasa stress, kesal, atau gagal. Kamu bisa melakukan journaling atau menuliskannya pada catatan yang kamu miliki sebagai salah satu cara untuk mengelola emosi.
- Matikan semua layar 30 menit sebelum tidur untuk memberikan sinyal pada tubuh bahwa waktu bekerja telah usai
Ada perbedaan antara menggunakan waktu secara efektif dan mengisi seluruh waktu dengan aktivitas. Jika seseorang bekerja tanpa jeda, kualitas perhatian dapat menurun, emosi meningkat, dan tidak jarang menjadi lupa akan diri sendiri. Jadi, istirahat bukan lawan dari produktivitas. Dalam konteks tertentu, istirahat merupakan bagian dari kemampuan untuk mengatur diri agar dapat bekerja secara berkelanjutan dengan mengenali kemampuan diri.
Saatnya Memberi Ruang untuk Menikmati Waktu
Terkadang, ketika kamu berani melambat, kamu justru memiliki kesempatan untuk melihat kembali bagaimana selama ini kamu menjalani waktu.
Jadi, memberi ruang untuk beristirahat bukan berarti berhenti berkembang. Justru, dengan memahami kapan harus bergerak dan kapan perlu berhenti, kita dapat menjalani produktivitas dengan cara yang lebih seimbang, tanpa kehilangan kesehatan, emosi, dan kehidupan yang ingin kita nikmati.
Kalau kamu ingin mulai memberi ruang untuk memahami diri sendiri, kamu bisa mencoba template refleksi yang kami sediakan. Luangkan beberapa menit untuk menuliskan apa yang sedang kamu rasakan, apa yang sedang kamu butuhkan, dan bagaimana kamu ingin menjalani waktu ke depannya.




