Ada masa ketika kita merasa bersalah hanya karena sedang tidak melakukan sesuatu. Saat pekerjaan selesai, kita mencari pekerjaan lain. Saat akhir pekan tiba, kita merasa harus tetap produktif.
Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan individu. Cara masyarakat melihat keberhasilan juga dapat membentuk hubungan kita dengan pekerjaan dan waktu. Salah satunya melalui budaya produktivitas.
Ketika produktivitas menjadi ukuran diri
Produktivitas pada dasarnya adalah kemampuan menghasilkan sesuatu secara efektif. Masalah muncul ketika produktivitas menjadi ukuran utama untuk menilai apakah sebuah hari dianggap berhasil. Jika hari yang produktif dianggap baik, kita mungkin mulai melihat hari tanpa pencapaian sebagai kegagalan.
Dalam budaya produktivitas, waktu kosong mudah dianggap sebagai kesempatan yang terbuang.
Mengapa istirahat terasa tidak nyaman?
Istirahat tidak memberikan hasil yang selalu terlihat. Ketika kita bekerja, hasilnya dapat berupa email yang terkirim, tugas yang selesai, atau uang yang diperoleh. Saat beristirahat, tidak ada output yang langsung terlihat.
Karena itu, budaya produktivitas dapat membuat aktivitas yang tidak menghasilkan sesuatu terasa kurang bernilai. Padahal, tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk pulih dari aktivitas.
Produktivitas bukan berarti terus bekerja
Ada perbedaan antara menggunakan waktu secara efektif dan mengisi seluruh waktu dengan aktivitas. Jika seseorang bekerja tanpa jeda, kualitas perhatian dapat menurun. Kesalahan mungkin semakin sering terjadi dan pekerjaan yang sebenarnya sederhana bisa terasa lebih berat. Istirahat bukan lawan dari produktivitas. Dalam konteks tertentu, istirahat merupakan bagian dari kemampuan untuk bekerja secara berkelanjutan.
Media sosial memperkuat standar tertentu
Media sosial juga dapat membuat budaya produktivitas terlihat semakin kuat. Kita melihat orang bangun pagi, berolahraga, membaca buku, bekerja, belajar keterampilan baru, dan menjalankan bisnis dalam satu hari. Yang jarang terlihat adalah waktu ketika mereka tidak melakukan apa-apa.
Akibatnya, kehidupan normal dapat terlihat seperti tidak cukup hanya karena kita membandingkannya dengan konten yang sudah dipilih dan dikurasi.
Bagaimana mengubah cara melihat istirahat?
Salah satu langkahnya adalah berhenti menganggap istirahat sebagai hadiah setelah semua pekerjaan selesai. Pekerjaan tidak pernah benar-benar habis. Selalu ada email berikutnya, tugas berikutnya, atau target berikutnya. Jika istirahat hanya boleh dilakukan setelah semuanya selesai, kita mungkin tidak pernah merasa benar-benar berhak untuk berhenti.
Memahami pengaruh budaya produktivitas membantu kita melihat bahwa nilai diri tidak harus selalu ditentukan oleh seberapa banyak yang berhasil dilakukan. Istirahat bukan bukti bahwa kita malas. Sama seperti bekerja, istirahat merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.




