Ilustrasi ukiran garis sebagai bentuk mengatur emosi marah di tengah kehidupan yang serba cepat.

Kota Besar Ini Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Hidup di kota besar sering membuat emosi datang lebih cepat daripada kesadaran. Di tengah deadline, kebisingan, dan tuntutan yang tidak pernah berhenti, marah kerap muncul sebagai pelampiasan dari lelah yang menumpuk. Lewat cerita sederhana di ruang publik kota, tulisan ini mengajak kita berhenti sejenak, memahami kemarahan sebagai sinyal, dan belajar memberi jeda agar tetap manusiawi di dunia yang terus bergerak.

Pagi itu, saya berdiri di peron kereta. Bau kopi dari tumbler orang di sebelah bercampur dengan suara sepatu yang terburu-buru. Semua orang tampak sibuk, bahkan sebelum hari benar-benar dimulai. Ada seorang bapak di depan saya mengomel karena antrean bergerak lambat. Suaranya bersaing dengan gemuruh klakson mobil yang terdengar hingga ke dalam stasiun. Tidak jauh Di belakang, ada suara napas panjang yang ditahan terlalu lama. Tidak ada yang saling menatap, tapi semua seperti membawa emosi masing-masing di pundak. Kota besar selalu seperti ini. Ramai, tapi mudah tersulut.

Marah Itu Sering Kali Datang Lebih Dulu

Di kereta, seorang perempuan muda menerima telepon. Nada suaranya pelan, tapi raut wajahnya tegang. “Iya, nanti aku urus,” katanya, sambil menekan-nekan layar ponsel. Setelah telepon ditutup, ia menghela napas panjang, lalu menatap kosong ke jendela. Ia tidak marah pada siapa pun di sekitarnya. Tapi kalau seseorang tak sengaja menyenggol tasnya, mungkin ledakan kecil akan terjadi. Di kota besar, marah jarang berdiri sendiri. Ia biasanya hasil dari lelah yang menumpuk.

Pernah Tanya Mengapa?

Mungkin karena kita hidup terlalu dekat dengan deadline. Hidup di kota besar berarti hidup dengan waktu yang selalu mengejar. Jam masuk kerja, jam pulang, target bulanan, pesan yang harus segera dibalas. Bahkan istirahat pun sering diberi batas. Saat semua serba cepat, emosi tidak sempat diproses. Marah jadi jalan pintas. Lebih cepat daripada menjelaskan, lebih mudah daripada mengakui lelah. Entah harus maklum atau ikut terbawa arus. Seseorang pernah mengatakan pada saya “sudah, ikuti saja permainannya”, saat itu saya hanya diam, namun hati tetap menolak untuk mengikuti perputaran itu – Bergerak cepat, kurang istirahat, merasa lelah, acuh tak acuh, emosi, dan berujung pada melimpahkan amarah. Hasilnya?  Tidak semua orang punya ruang untuk aman.

Di Balik Kemarahan Orang-Orang Kota Besar

Suatu hari, saya memutuskan untuk berani mengambil langkah merefleksikan hal ini. Sering ada cerita yang tidak kita dengar. Tagihan yang belum lunas. Atasan yang terus menekan. Keluarga yang menunggu di rumah dengan harapan tinggi, dan lain sebagainya. Marah bukan selalu tanda orang itu buruk. Kadang, itu tanda dia kehabisan ruang untuk tenang. Jika pikiran sudah kalut, apalagi yang dapat kita lakukan? Kita lupa bahwa semua orang juga manusia. Di jalanan, di kantor, di transportasi umum, kita sering melihat orang lain sebagai pengganggu. Padahal, mereka juga sedang membawa hidupnya masing-masing. Kota besar membuat kita hidup berdampingan tanpa benar-benar saling mengenal. Empati jadi hal yang mahal.

Bagaimana dengan Saya?

Tidak semua orang berani memberikan waktu untuk diri mereka sendiri. Ada banyak alasan di baliknya. Faktor ekonomi, sosial, dan berbagai pemenuhan gaya hidup mereka. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk sadar. Karena mungkin yang kita butuhkan bukan kesabaran lebih, Tapi Jeda. Bukan berarti kemarahan selalu bisa dimaklumi. Tapi mungkin, sebelum menghakimi, kita bisa berhenti sebentar. Mengingat bahwa di balik nada tinggi dan wajah tegang, ada manusia yang sedang berusaha bertahan. Kota besar ini keras. Dan kita sering lupa untuk saling melembutkan.

Marah itu Bukan Musuh, Tapi Sinyal

Marah di kota besar sering bukan tentang hari ini. Ia akumulasi dari hari-hari sebelumnya yang terlalu penuh. Jika kamu hari ini merasa lebih mudah tersulut, mungkin bukan karena kamu berubah jadi orang yang buruk. Mungkin kamu hanya butuh istirahat yang tidak terburu-buru. Di kota besar yang tidak pernah diam, memilih pelan adalah bentuk keberanian kecil.